Selasa, 31 Juli 2018

Bidadari Tak Bersayap

 


  Diceritakan ada seorang wanita yang sedang mengandung 4 bulan yang hidup berkekurangan suaminya meninggal karena sakit dan hidup sebatangkara,pekerjaannyapun hanya sebagai buruh cuci dan kadang mencari barang bekas  untuk mencukupi kebutuhannya


Suatu hari  wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Abqari. Dia menjaga dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, suatu hari anaknya terbangun di tengah malam hari dan terus menangis tanpa henti, wanita itu berfikir “mungkin anakku lapar, tapi aku tidak punya uang untuk membeli susu”. Kemudian wanita itu melihat beras yang diberi oleh tetangga kepadanya, kemudian dia memasukan beras itu kedalam air hangat lalu memisahkan air dengan berasnya untuk diberikan kepada anaknya, dengan tangisan dihatinya wanita itupun memberikan air beras tadi kepada anaknya. 

  Beberapa tahun kemudian sampai anaknya sudah mulai belajar berbicara untuk pertama kalinya wanita itu mendengar kata “ibu” dari anaknya, sungguh bahagia sekali wanita itu seakan semua lelahnya terbayarkan hanya dengan sebuah kata “ibu” dari anaknya, wanita itupun memeluk anaknya sambil menangis terharu

  Setelah anaknya beranjak remaja, anak itu selalu mengeluhkan kehidupanya karena anak-anak yang lain mempunyai handphone dan motor masing-masing dan wanita itupun hanya berbicara “Iya nak, nanti ibu belikan” anak itu menjawab “Aku maunya sekarang bu” ibu menjawab “ Besok ibu belikan nak, Ibu janji tapi handphone dulu ya” anak itupun berhenti rewel “Iya deh, tapi awas kalo gak beli aku akan pergi dari rumah”

  Suatu hari setelah anaknya sudah dewasa, anak itu selalu berpoya-poya bersama teman-temanya pergi ke clubbing, dan bahkan pekerjaanya mencuri. sampai suatu hari anak itu pulang kerumah bersama teman-temanya dengan keadaan mabuk, wanita itupun melihat “astagfirullah, kamu mabuk nak?” lalu teman-teman anak itu bertanya “ Itu siapa bro, ibu lo?” Abqari menjawab “ Bukanlah bro keluarga gua pada pergi keluar kota, dia hanya pembantu gua, manasudi gua punya ibu kaya dia” dengan tangisan wanita itu berbicara “Istigfar nak, ini ibu mu” Abqari meninggikan suaranya sambil mendorong ibunya “Apaansi loe, cepat pergi ke dapur buatin gua minuman” ibu itupun menjawab “astagfirullah. iya nak, ibu buatin”

  Beberapa tahun kemudian anak itu mempunyai banyak uang dan rumah  hasil dari curianya, dia pergi meninggalkan ibunya lalu menikah dengan seorang wanita, akan tetapi istrinya hanya ingin  menguras kekayaannya saja .

 Sampai akhirnya abqari jatuh miskin dan sakit bahkan masuk penjara karena dia tertangkap saat sedang ingin  mencuri di sebuah toko, di dalam penjara dia tersadar bagaimana perlakuan kejinya terhadap ibunya, dia menyesali perbuatanya dan ingin menemui ibunya, dia berbicara kepada polisi “pak tolong hubungi ibu saya, saya ingin bertemu dengannya” pak polisi menjawab “iya nanti saya hubungi”. Sampai keesokan harinya dia bertanya lagi kepada polisi “bagiamana pak ibu saya, apa sudah bisa di hubungi?” pak polisi menjawab “maaf nak, ibu anda sudah meninggal, dan beliau menitipkan surat kepada tetangganya untuk diberikan kepadamu, silahkan ” Abqaripun membaca sepucuk surat dari ibunya, dalam surat itu tertulis “untuk anakku, nak ibu di sini selalu mendoakanmu, semoga kamu bisa menjadi orang yang sukses, sehat selalu, dan di berikan kemudahan di setiap perjalanan mu nak, dan mudah-mudahan kamu dikaruniai anak yang shaleh yang kelak menjadi cucu ibu, seandainya nanti kamu sudah kehilangan ibu mu ini nak janganlah pernah kamu bersedih, teruslah bahagia, dan jalani hidup ini dengan penuh hikmat nak, ibu ingin sekali bertemu dengan mu, ibu ingin sekali memelukmu, ibu ingin bersamamu lagi seperti dulu nak, karena kamulah hidup ibu karena kamulah semangat ibu, dari ibumu yang selalu menyayangimu “. Setelah membaca surat dari ibunya abqaripun menangis tersedu-sedu belum sempat dia membalas semua kasih sayang dari ibunya, belum sempat dia membahagiakan ibunya

 Jadi bagi kalian yang masih mempunyai ibu sayangilah mereka,jagalah hati mereka, dan selalu lah membuat mereka tersenyum, ingatlah kamu tidak akan pernah ada jika ibumu tidak ada